Yuk, berjilbab sayang…

Yuk, Tutup Aurat Sayang E-mail

Oleh: Anggraini Lubis Foto: Azmi & Istimewa

ImageAnak-anak perempuan yang belum baligh memang belum wajib menutup aurat mereka. Namun latihan sejak kecil sungguh penting dalam membentuk pribadi anak menjadi Muslimah yang taat kepada Allah.

Bagaimana ya caranya agar Ani belajar menutup auratnya?” demikian pertanyaan seorang teman dalam suatu kajian yang saya ikuti. Menutup aurat merupakan sebuah kewajiban bagi setiap Muslimah. Sebagaimana shalat dan ibadah lainnya, menutup aurat pun harus diajarkan sejak dini. Bukankah Allah telah memerintahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyuruh perempuan
menutup auratnya?

“Hai Nabi, katakanlah kepada istriistrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya (jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada) ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”( QS Al-Ahzab: 59) Lalu bagaimana mengajarkan menutup aurat pada Muslimah kecil kita ya? Ini kiatnya

Beri Contoh
Sebagai orangtua, ada satu kata yang harus Anda ingat dalam mendidik anak. “Ingatlah anak-anak meniru dari orangtuanya”. Karenanya sebagaimana saat Anda mengajarkannya shalat dan ibadah lain, akan lebih berarti jika Anda yang mencontohkannya. “Contoh adalah hal yang utama dalam mendidik anak. Jika ingin anak berjilbab, maka ibu dan wanita di sekeliling si anak harus lebih dulu mencontohkan,” kata Rahmadani Hidayatin, psikolog pada Universitas Medan Area, Medan.

Sejak Kecil
Terkadang kita melihat ada orangtua yang memakaikan busana princess dengan alasan agar anak terbiasa memakai busana yang feminin. Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang menjadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memuliakan syari’at Allah semenjak usia mereka yang masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah (cinta kepada Allah), melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita teriakkan, “Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.” Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, Nah…, begitu dong. Kalau pakai jilbab cantik kan?” Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingatkan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka meskipun tampaknya kita lebih sering mencela dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab? Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31).

Hikmah
Berikut ini beberapa hikmah dari diwajibkannya jilbab bagi seorang Muslimah :

Baca Selengkapnya Di Majalah Alia Edisi Agustus 2009

Leave a comment »

7 JENIS KECERDASAN ANAK

Ada tujuh kecerdasan dasar yang digagas oleh Howard Gardner yang biasa disebut Multiple Intelligences. Ketujuh kecerdasan itu adalah: Kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetis-jasmani, musikal, interpersonal, dan intrapersonal.

Setiap anak bisa memiliki satu atau beberapa kecerdasan yang menonjol dan beberapa kecerdasan lain yang normal atau bahkan rendah. Berikut ini penjelasan untuk setiap jenis kecerdasan:

  • Kecerdasan Linguistik

Kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur bahasa, fonologi (bunyi bahasa), semantik (makna bahasa), dimensi pragmatik (penggunaan praktis bahasa). Penggunaan bahasa mencakup aspek retorika (penggunaan bahasa untuk memengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan tertentu), mnemonik (penggunaan bahasa untuk mengingat informasi), eksplanasi (penggunaan bahasa untuk memberi informasi), dan metabahasa (penggunaan bahasa untuk membahas bahasa itu sendiri). Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh pendongeng orator, politisi, pembawa acara, pembicara publik, penceramah, sastrawan, wartawan, editor, penulis skenario, dan sebagainya.

  • Kecerdasan Matematis-logis

Kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil (jika-maka, sebab-akibat) , fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis-logis antara lain: kategorisasi, klasifikasi, pengambilan kesimpulan, generalisasi, penghitungan, dan pengujian hipotesis. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh ahli matematika, insinyur, pekerja keuangan, bankir, ahli statistik, ilmuwan, programmer, perencana, dan sebagainya.

  • Kecerdasan Spasial

Kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat da mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang, dan hubungan antar-unsur tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual atau spasial, dan mengorientasikan diri secara tepat dalam matriks spasial. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh arsitek, dekorator, seniman, inventor, desainer, pelukis, pematung, fotografer, sutradara film, dan sebagainya.

  • Kecerdasan Kinestetis-Jasmani

Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan menggunakan tangan untuk mencitakan atau mengubah sesuatu. Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi keseimbangan, ketrampilan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan dan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh perajin, mekanik, dokter bedah, pematung, atlet, aktor, penari, dan sebagainya.

  • Kecerdasan Musikal

Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara mempersepsi, membedakan, menggubah, dan mengekspresikan. Kecerdasan ini meliputi kepekaan para irama, pola titinada atau melodi, dan warna nada atau warna suara suatu lagu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh: pemain musik, penyanyi, komposer, pembuat efek, penari, dan sebagainya.

  • Kecerdasan Interpersonal

Kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak-isyarat; kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal; dan kemampuan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan pragmatis tertentu. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh: politisi, marketer, pekerja sosial, psikolog, pewawancara, anak-gaul, dan sebagainya.

  • Kecerdasan Intrapersonal

Kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri yang akurat (kekuatan dan keterbatasan diri); kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh penulis, spiritualis, psikolog, ilmuwan, dan sebagainya.

Oleh karena itu hasil tes IQ bukan berarti kartu mati, bila kita mendapatkan seorang anak hanya mendapat nilai di bawah rata-rata. Gali dan kenali kecerdasannya yang lain. Teori yg menarik dan membuat kita lebih hati-hati menilai anak-anak. Kita tak perlu lagi melabeli anak2 bodoh hanya karena tes IQ-nya rendah atau anak-anak dicap nakal di kelas. Padahal, kenakalan itu seringkali merupakan “pemberontakan” atas gaya belajar yang dipaksakan kepada mereka dan membuat anak tidak dapat berkembang sesuai gaya alami mereka.

Nb: masih tahap edit

Leave a comment »

KENALI BAKAT ANAK SEJAK DINI

Setiap anak lahir dengan potensi dan bakatnya masing-masing. Sayang, tidak setiap orangtua dengan mudah memahaminya. Akibatnya banyak bakat yang tidak dapat terdeteksi sejak dini atau bahkan hilang begitu saja. Bagaimana cara mengenal bakat anak sejak dini?.
“Tak ada jaminan bahwa bakat anak saat ini, adalah bakatnya hingga dewasa. Menurut Psikolog Verauli, M.Psi, perubahan ini sesuai dengan kondisi usia anak tersebut.Saya punya klien yang umurnya 80 tahun dan sampai sekarang belum tahu bakatnya apa,” jelas psikolog muda ini.
Menurut Verauli, bakat anak bersifat majemuk, tergantung peran orangtua untuk membantu mengarahkan potensi yang dimiliki si anak, dapat mencakup, antara lain:
1.    bakat musik;
2.    berpikir logis matematis;
3.    interpersonal;
4.    intrapersonal, dan sebagainya.
Penyebab utama bakat-bakat tidak tampil, alias terpendam hingga dewasa, antara lain:
1.    Ketidakpekaan orangtua terhadap bakat buah hatinya;
2.    Tempat tinggal atau lingkungan yang minim fasilitas penunjang;
3.    Lemahnya atau kurangnya pendidikan dan pelatihan.

Minat dan bakat memiliki perbedaan. Di sinilah orangtua harus mampu melihat, apakah si kecil memang berbakat terhadap sesuatu atau hanya sekedar berminat saja. “Misalnya, si kecil menunjukkan ketertarikan pada golf. Ketika dibawa ke lapangan golf, jika ia memegang stik bola dan antusias untuk bermain, dapat dipastikan ia berbakat. Tapi, jika ketertarikannya hanya sesaat saja, berarti itu hanya minat.
Anak yang berbakat, lanjutnya, biasanya memiliki kemampuan di atas rata-rata dan cerdas. Ciri-ciri anak berbakat, antara lain:
1.    Dapat dengan mudah menangkap informasi yang disajikan;
2.    Memiliki ingatan yang baik;
3.    Memiliki penalaran tajam;
4.    Mampu berkonsentrasi dan senang mempelajarinya.
Orangtua harus tahu perbedaan antara anak yang cerdas dan kreatif.. Anak yang cerdas belum tentu kreatif. Begitu juga sebaliknya, anak yang kreatif belum tentu cerdas.”
Anak yang kreatif, biasanya memiliki rasa ingin tahu yang besar, punya banyak ide dan gagasan, serta mampu mengembangkan ide dan gagasannya tersebut. Ia juga memiliki daya imajinasi yang kuat, serta selalu senang mencoba hal-hal baru.

Nb: masih dalam tahap edit

Leave a comment »

Assalamu’alaikum

Selamat Datang di web site Anak Kreatif, Prestasi Juga Sholeh. Disitus ini kami membahas seputar anak-anak yang dalam perkembangannya mengalami perubahan sejalan dengan usianya. Nah selamat bergabung di situs Anak Kreatif…!!!

Comments (1) »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.